Jumat, 28 September 2012

Terkadang Senyum itu Pahit

Aku ingin membahagiakan kalian
Tapi dengan caraku
Sungguh aku bertekad mewujudkan mimpi kalian
Namun biarkan aku membangunnya dengan caraku
Ini hidupku        
Jadi kumohon...
Berikan aku kesempatan
Meski itu hanya sekali
`tuk menentukan jalanku sendiri
Apa kalian tau?
Saat otakku berusaha berontak dan tak peduli
 Saat itu aku tersiksa
Seandainya aku mampu melakukannya
Tentu semua mau kalian akan kulakukan
Tapi tidak...
Aku tak bisa...
Aku bukan manusia yang sempurna
Aku bukan mereka yang menyukai kerumitan
Aku adalah aku
Perlakukan aku sebagai diriku
Bukan sebagai mereka
Aku adalah aku
Yang tak menyukai logika
Kumohon kalian mengerti
Hidupku berintuisi, Bukan berlogika !

Selasa, 25 September 2012

26 September 2012 : No Meaning

Mau diapakan lagi ?
Bukankah waktu tak mampu kembali ??
Tak pernah peduli seberapa besar penyesalanmu...
Seberapa banyak air matamu
Dan seberapa jauh kau menelusuri masa lalumu

Waktu tak kan peduli ....
Dan aku benci itu...

Aku benci keterpaksaan..
Aku benci dimonopoli..
Dan aku benci jalan hidup yang terjerat ??
Apa ?
Apa yang dapat kalian lakukan?
Bukankah kalian tak pernah peduli ...
Padaku???

Bukankah kalian hanya menganggapa aku ada..
Disaat kalian membutuhkanku??
Apa bedanya?
Apa bedanya aku dengan pohon tebu ?
Yang terhisap dalam mulut-mulut rakus...
Dan terbuang saat tak dibutuhkan...

Aku tak menyesali hidupku...
Tidak pernah...
Hanya satu yang kubenci...
Aku benci topeng kemunafikanmu.......

Minggu, 23 September 2012

Just Writing In Spare Time...

Ada saatnya otak diam...
Melogika rumus kehidupan yang rumit..
Cobalah...
Cobalah tuk ikuti nuranimu..

Abaikan semua logikamu ....
Meski hanya  sesaat..

Kau hanya butuh diam...
Pejamkan matamu...
Dengarkan..

Dengarkan hatimu berdesir
Mencoba membisikkan rumus sederhana
Bukan logika ...
Hanya sekedar rumus sederhana
Yang mengajakmu tersenyum..
Bahagia...



Jumat, 14 September 2012

Karya Sagulan Shooge :)


 editan abstrak di photoshop... seabstrak otak pembuatnya :D


 tugas bikin ornamen waktu pelajaran seni rupa....
kalo ditanya maknanya apa.. aku juga nggak tau.... n_n


hayo tebak !!!
batik biru ini dapat nilai berapa ???
hahahaha.... pertama kali aku merasakan amazing sama nilai seni rupaku...



hhhmmm.... ini adalah batik tradisional hasil imajinasi
seorang sagulan.... hehehehe... maklum kalo agak aneh...

Kamis, 13 September 2012

Taman dekorasi 2






Sketsa





hehehe... emang nggak terlalu berkualitas sih... tapi lumayanlah buat ngerefresh otak yang sumpek gara-gara pelajaran eksak ^,^
selamat menikmati ....
bagi yang mau download diijinkan kok... :))

Selasa, 11 September 2012

Cerita Anak : Pengorbanan Sang Ayam


Suatu hari Tika sang ayam sedang mencari makan di sawah. Paruhnya mengais-ngais biji padi yang tertinggal disawah. Karena sawah itu telah dipanen, maka hanya sedikit biji padi yang bisa dimakan Tika. Diapun terus menyusuri setiap petak sawah untuk mencari makan. Namun, biji padi yang didapatkannya tidak sebanding dengan kelelahan yang dia rasakan. “Hheeh.. capeknya mencari makan disawah ini! Aku telah mengelilingi petak-petak sawah ini, tapi hanya sedikit padi yang kumakan.” Keluh Tika kemudian. Tika pun memandang kearah langit. Dia membayangkan dirinya bisa berada diangkasa dan berpetualang mengarungi langit yang biru itu.
“Andai, sayapku ini bisa kugunakan untuk terbang, pasti aku tidak merasa kelaparan lagi, karena aku bisa berburu biji padi ke sawah-sawah didaerah lain yang belum dipanen.” Ucap Tika. Setelah Tika berkata seperti itu, datanglah Rani si merpati yang sombong. Rani baru saja berburu biji padi di sawah desa sebelah. “Hahahaha.. kamu masih lapar ya? Kasihan sekali nasib kamu Tika! Kamu tidak bisa terbang sepertiku! Hahahaha !” Ejek Rani setelah dia mendarat di dekat Tika.
Tika sedih diejek seperti itu oleh Rani. Tika pun pergi begitu saja. Dia kembali membayangkan dirinya bisa terbang seperti Rani. Tika pun menangis, karena dirinya tidak bisa seperti Rani.
Esoknya, Tika berjalan-jalan ke tanah lapang. Dia berniat untuk berburu belalang di tanah lapang itu. Tika sangat senang ketika sampai di tanah lapang itu. karena disana, dia melihat banyak belalang yang sedang mencari makan.
Tika pun berlari kesana-kemari memburu belalang-belalang itu. Namun, belalang-belalang itu dapat meloncat dengan lincah dan tinggi, sehingga Tika kesulitan untuk menangkapnya. “Ternyata, menangkap belalang itu juga susah, mereka sangat lincah sekali !” Kata Tika.
Sementara itu, Rani yang sedari tadi menunggu anak-anaknya yang masih bayi berada disarang diatas pohon dekat tanah lapang itu mengamati Tika. Rani kemudian terbang dan mendatangi Tika. “Hahaha,,, kamu pikir menangkap belalang itu gampang? Belalang itu lincah ! susah menangkap mereka, hahaha!” Ejek Rani lagi. “Kalau saja kamu itu bisa jadi sepertiku, kamu bisa terbang kesana-kemari, pasti kamu akan mudah mendapat makanan, hahahaha.” Tambah Rani.
Setelah berkata seperti itu, Rani terbang ke angkasa. Dia ingin mencarikan makanan untuk anak-anaknya. Namun, belum lama Rani terbang, tiba-tiba ada angin yang cukup kencang berhembus. Angin itu membuat sarang anak-anak Rani jatuh dari pohon.
“Ciya...Ciya...Ciya..!” Teriak anak-anak Rani meminta pertolongan. Teriakan anak-anak Rani itu didengar oleh Pito si ular kobra yang jahat. Pito pun menghampiri sarang itu dan berniat untuk memakan anak-anak Rani.
“Hahaha... beruntung sekali aku hari ini!” Seru Pito girang. “Karena ibumu sedang tidak ada, maka aku dengan mudah bisa memakanmu, hahaha!” ucap Pito lagi. Pito mulai mendekati anak-anak Rani.
“Hey,, Berhenti !” Teriak Tika yang melihat Pito mendekati anak-anak Rani. “Jangan makan anak-anak merpati itu! mereka anak-anak sahabatku !” Larang Tika. “Siapa kamu? Berani-beraninya kamu mengganggu urusanku!” Ucap Pito marah.
Pito yang merasa terusik dengan kedatangan Tika, dengan kemarahan yang besar bergerak mendekati Tika. Pito mulai menegakkan badannya. Mulutnya mulai menyemburkan bisa beracun pada Tika. Namun, Tika dapat menghindari semburan bisa Pito.
Pito semakin marah. Akhirnya dia pun menyerang Tika dengan membabi buta. Tika melawan setiap serangan Pito dengan sekuat tenaga. Namun, kekuatan Pito tidak sebanding dengan kekuatan Tika. Tika terlalu lemah untuk menghadapi Pito.
Setelah melihat Tika yang terluka parah, Pito pun menghentikan serangannya. “Hahaha... ternyata hanya nyalimu yang besar, kekuatanmu sangat lemah !” Ejek Pito kemudian. “Apa yang bisa kau lakukan sekarang?”  Hardik Pito lantang kepada Tika.
“Aku mohon, jangan makan anak-anak merpati itu! mereka masih terlalu kecil, jadi biarkan mereka hidup! Sebagai gantinya kau boleh memakanku.” Ucap Tika memohon pada Pito. “Hhem.. baiklah jika maumu seperti itu. Aku tidak akan memakan anak-anak merpati itu, tapi aku akan memakanmu!” kata Pito.
Selanjutnya Pito pun memakan Tika dengan lahap. Hanya tulang-tulang dan bulu-bulu Tika yang tersisa di sekitar sarang anak-anak Rani.
Rani yang mengetahui Pito berada dekat pohon tempat sarangnya begitu khawatir dengan keadaan anak-anaknya. Namun, Rani merasa lega begitu mengetahui anak-anaknya selamat.
“Bersyukurlah, karena kau memiliki sahabat ayam yang kumakan ini. Dia rela mati demi anak-anakmu!” Ucap Pito sebelum dia meninggalkan sarang Rani.
Rani pun langsung menangis mendengar ucapan Pito. Dia menyesali perbuatannya yang sangat jahat pada Tika. Dia menyesal karena selama ini dia selalu mengejek Tika. Tapi Tika tidak pernah membalas ejekan itu. Bahkan, dia rela mati demi menyelamatkan nyawa anak-anak Rani.

====TAMAT====